Suatu hari, saya menemukan sebuah buku tebal dengan judul “Kabar Baik untuk Anak-anak“. Buku tersebut ternyata merupakan “bentuk” lain dari Alkitab yang diterbitkan oleh salah satu lembaga di Indonesia.
Bentuk tulisan dan gaya bahasa yang berbeda dengan Alkitab kebanyakan, yang memang menunjukkan kalau buku tersebut dirancang untuk anak-anak. Terlihat jelas bahwa tidak semua bagian dari Alkitab, terdapat didalam buku tersebut, bahkan boleh dikatakan hanya poin-poin penting saja.
(Poin-poin penting menurut siapa..?? – pikir saya..)
Setelah membolak-balik halaman, sampailah pada kitab Imamat; kitab yang menurut saya juga penting seperti halnya kitab-kitab yang lain. Terdapat kata pengantar sebagai berikut:
Buku Imamat berisi bermacam-macam peraturan dari Tuhan yang harus ditaati oleh orang Israel, tetapi dalam Alkitab anak-anak ini, hanya beberapa peraturan penting dari buku Imamat tersebut yang dicantumkan. Ayat terkenal dari buku ini, ialah “Kasihilah orang lain seperti engkau mengasihi dirimu sendiri”
Ada 3 poin yang terdapat dalam buku tersebut:
- Kasihilah dan hargailah orang lain (Im 19:12-18, 32-37)
- Berbagai peraturan lain (Im 19:26b, 28a, 31)
- Bersikap baik terhadap orang miskin (Im 25:35-38)
That’s it…
Wew, sepertinya ada bagian-bagian yang hilang dari kitab ini.
Coba kita sama-sama tilik kitab Imamat 11 dan Imamat 23.
Ya, Imamat 11 berbicara mengenai kekudusan makanan; apa-apa yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan. Sedangkan Imamat 23 berbicara mengenai hari-hari raya yang ditetapkan Bapa YHWH, TUHAN kita, untuk dilakukan secara turun temurun.
Secara umum, kitab Imamat berbicara mengenai kekudusan umat “pilihan TUHAN“, dan sejak kita di”pilih” sebagai umatnya, sudah menjadi kewajiban kita untuk tidak mengabaikan ayat-ayat yang terdapat dalam kitab Imamat tersebut.
Nah, apabila sejak dini – sejak kanak-kanak, kita tidak mengajarkan kekudusan dan perintah-perintah Bapa kepada anak-anak kita, maka tidaklah mengherankan jika banyak diantara kita yang “katanya” umat percaya mengabaikan perintah-perintahNya dan mencemari kehidupannya.
Banyak yang tidak mengerti mengenai kekudusan makanan dan juga tidak tahu kapan memperingati hari raya.
Apakah semua itu penting?
Menurut anda para pembaca, apakah yang Bapa YHWH, TUHAN semesta alam, perintahkan itu penting atau tidak?
Hati kita yang akan menjawabnya.
Jika semua yang dilakukan “hanya sekedar”; apa adanya, tidak tahu membedakan apa yang baik, atau yang berkenan, dan bagaimana mungkin bisa sempurna?
Shalom
Hanukkah; atau lebih dikenal dengan hari raya Penahbisan Bait Suci / Feast of Dedication, merupakan salah satu hari raya yang ditambahkan kemudian setelah hari raya – hari raya yang ditetapkan oleh Bapa YHWH didalam kitab Imamat 23.
Dalam Perjanjian Baru yang diperbaharui, terdapat ayat yang menyebutkan tentang hari raya ini, sebagai berikut (agar lebih jelas ditampilkan dlm beberapa versi) :
Joh 10:22 Dan tibalah perayaan Penahbisan di Yerusalem, dan saat itu adalah musim dingin. (ILT)
Joh 10:22 And the Feast of Dedication took place in Jerusalem, and it was winter. (LITV)
Joh 10:22 And it was at Jerusalem the feast of the dedication, and it was winter. (KJV)
Joh 10:22 At that time the Hanukkah came to be in Yerushalayim, and it was winter. (The Scriptures 1998+)
Apa yang dimaksud dengan Penahbisan atau dedikasi terhadap Bait Suci?
Mari.. kita sama-sama pelajari sejarahnya..
Pada zaman Raja Anthiocus Epiphanes (putra dari Raja Anthiocus III), bangsa Israel dipaksa untuk menyembah Zeus. Epiphanes memproklamirkan dirinya sebagai perwujudan dari dewa matahari. Sehingga siapapun yang berada dibawah pemerintahannya, diwajibkan untuk menyembahnya dan patung Zeus.
Perhatikan ayat-ayat berikut ini
1Ma 1:44-50 (KJVA) For the king had sent letters by messengers unto Jerusalem and the cities of Juda that they should follow the strange laws of the land, And forbid burnt offerings, and sacrifice, and drink offerings, in the temple; and that they should profane the sabbaths and festival days: And pollute the sanctuary and holy people: Set up altars, and groves, and chapels of idols, and sacrifice swine’s flesh, and unclean beasts: That they should also leave their children uncircumcised, and make their souls abominable with all manner of uncleanness and profanation: To the end they might forget the law, and change all the ordinances. And whosoever would not do according to the commandment of the king, he said, he should die.
Raja Ephipanes memaksa bangsa Israel untuk tidak mentaati TUHAN dengan menerbitkan hukum-hukum seperti dibawah ini:
- melarang korban / persembahan bakaran;
- harus mengabaikan Sabbath
- harus mengabaikan hari-hari raya (yang ditetapkan TUHAN dalam Imamat 23)
- mencemari Bait Suci dan para imam
- mendirikan patung-patung berhala;
- mempersembahkan babi di atas altarnya; dan juga hewan-hewan yang dilarang untuk dikonsumsi lainnya. (Seperti tertulis dalam Imamat 11, bahwa babi termasuk binatang yang tidak boleh dimakan atau dijamah, karena unclean / haram).
- Membiarkan anak-anak tidak disunat dan melakukan hal-hal yang keji dan tidak kudus. Dimaksudkan agar melupakan Torah dan merubah kebiasaannya.
Adalah seorang bernama Maccabeus, yang melanjutkan perlawanan ayahnya yang bernama Mattathias terhadap kepemimpinan Ephipanes. (Mattathias adalah salah seorang Imam di sebuah daerah bernama Modin). Maccabeus melawan hukum yang ditetapkan oleh Ephipanes karena hukum tersebut sangat bertentangan dengan Torah TUHAN. Maccabeus adalah orang yang takut akan TUHAN; tidak ingin mencemarkan hidupnya, hanya untuk menuruti peraturan atau hukum yang dibuat oleh manusia yang bernama Ephipanes.
Maccabeus memimpin sekelompok pasukan namun berhasil mengalahkan tentara Yunani yang jumlahnya berlipatkali banyaknya. Dengan beriman, Maccabeus mengatakan bahwa peperangan tidak ditentukan oleh banyaknya jumlah pasukan, namun kekuatan yang datangnya dari sorga.
1Ma 3:19 (KJVA) For the victory of battle standeth not in the multitude of an host; but strength cometh from heaven.
Segera setelah berhasil menguasai kembali Bait Suci, Maccabeus membuat altar yang baru seperti sediakala begitu juga dengan tempat lilin (menorah) yang dibuat baru. Hal ini dilakukan karena segala sesuatu yang berada didalam Bait Suci sudah dinodai oleh kenajisan penguasa, dengan mempersembahkan korban-korban binatang yang “najis / haram”.
Hanukkah dilakukan setiap tahunnya untuk merayakan dan memperingati bahwa Bait suci berhasil direbut dari kekuasaan kerajaan Yunani melalui pertolongan yang datangnya dari TUHAN.
Dari peristiwa ini, ada beberapa hal penting untuk diingat kembali, yang sebenarnya masih berlaku dalam kehidupan kita.
- Bait Suci dibersihkan dan segala sesuatu yang najis dikeluarkan, bahkan dihancurkan, supaya TUHAN dapat berkenan untuk tinggal didalamnya.
Bait suci ini sebenarnya berbicara tentang tubuh kita, tentang dosa dan pelanggaran, tentang makanan yang najis, yang harus dibuang dari tubuh kita.
Perhatikan ayat berikut:
1Kor 6:19-20 (ILT) Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu itu tempat suci bagi Roh Kudus yang ada di dalam kamu, yang kamu peroleh dari Elohim, dan kamu bukanlah milikmu sendiri? Sebab, kamu telah dibeli dengan suatu harga, karena itu, muliakanlah Elohim dengan tubuhmu dan dengan rohmu yang adalah milik Elohim.
1Kor 3:17 (ILT) Jika seseorang merusak tempat suci Elohim, Elohim akan menghancurkan dia, karena tempat suci Elohim adalah kudus, itulah kamu adanya.
- Pada saat kita melakukan kesalahan, atau dosa atau marah atau apapun; segera kembali bersihkan “bait” ini tanpa menunda-nunda lagi.
Ef 4:26 (ITB) Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu
Eph 4:26 (KJVA) Be ye angry, and sin not: let not the sun go down upon your wrath:
- TUHAN dapat melakukan hal yang besar, meski hanya sekelompok kecil yang mau taat.
Jadi, dari cerita diatas, kita dapat mengetahui, pada saat ini kita berada disisi sebelah mana. Apakah kita akan mengikuti pola hidup seperti Maccabeus yang taat pada Torah TUHAN dan menjaga kekudusan?, atau hidup secara cemar, dan menjauhkan diri dari Torah dan melakukan semua yang dilarang Bapa seperti Epiphanes?
Happy Hanukkah….
Shalom..
Filed under: About Faith | Tags: christmas, desember, mesias, natal, sukkot, yahshua, yahushua, Yeshua, yesus, YHWH
Ya, hari Natal, bahkan berbulan-bulan, jauh sebelum hari yang dinanti-nanti tiba. Hari yang dianggap sebagai hari raya, sekalipun tidak pernah ditetapkan oleh Bapa untuk dilaksanakan.
Ada pernyataan-pernyataan yang menanggapi bahwa sebenarnya Mesias tidak lahir tanggal 25 Desember..
“Bukankah kita tidak pernah mengetahui kapan Mesias lahir?” atau
“Yang pentingkan esensinya, bahwa Mesias bisa saja lahir setiap hari didalam kehidupan kita?”
(Uppss.., sepertinya sudah saatnya kita kembali membaca kitab suci..
)
Jika dikatakan “kita tidak mengetahui kapan waktunya”, mengapa kita menetapkan “satu” hari untuk dirayakan dan apakah sebenarnya harus dirayakan?
“Mengapa selalu identik dengan pohon-pohon cemara / kado-kado / bahkan salju dan sinterklas?”
Apakah semua ini benar atau pembenaran diri?
Untuk itu mari kita lihat beberapa ayat dalam kitab suci yang berhubungan dengan saat dilahirkannya Mesias..
Luk 2:3 (ILT) Dan semua orang pergi, masing-masing ke kotanya sendiri, untuk didaftarkan.
(Kaisar Agustus memberi keputusan untuk melakukan sensus, hal ini sangat tidak masuk akal jika dilakukan saat musim dingin atau salju / Desember.)
Luk 2:8 (ILT) Dan di wilayah yang sama, para gembala sedang tinggal di padang dan ternak mereka.
(Para gembala tidak mungkin menggembalakan ternaknya pada saat musim dingin atau salju / Desember.)
Yoh 1:14 (ILT) Dan Firman itu sudah menjadi daging dan berdiam di antara kita.
(Berdiam dapat juga berarti bersemayam atau berkemah / tabernacle)
Joh 1:14 (The Scriptures 1998+) And the Word became flesh and pitched His tent* among us,
(*An indication that His birth was during the Festival of Booths.)
Joh 1:14 (KJV+) And the Word was made flesh, and dwelt (G4637) among us,
Dalam Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries dijelaskan:
G4637
σκηνόω
skēnoō
skay-no’-o
From G4636; to tent or encamp, that is, (figuratively) to occupy (as a mansion) or (specifically) to reside (as God did in the Tabernacle of old, a symbol of protection and communion): – dwell.
G4636
σκῆνος
skēnos
skay’-nos
From G4633; a hut or temporary residence, that is, (figuratively) the human body (as the abode of the spirit): – tabernacle.
Dari beberapa ayat diatas, diindikasikan dengan jelas bahwa kelahiran Mesias tidak terjadi pada musim dingin atau salju, melainkan terjadi saat hari raya yang ditetapkan oleh Bapa atau dikenal dengan Hari Raya Pondok Daun (akhir September / awal Oktober). Dimana hari tersebut dirayakan dengan penuh sukacita, karena merupakan kelanjutan dari hari raya sebelumnya yaitu Yom Kippur / Hari Raya Pendamaian. Umat Israel bersukacita karena sudah diperdamaikan oleh Bapa pada Hari Raya Pendamaian tersebut.
Sedikit petunjuk lain tentang waktu kelahiran Mesias.
Kita percaya bahwa Mesias, dikorbankan pada hari raya Paskah, dan Mesias hidup kurang lebih 33 1/2 tahun. Dengan perhitungan 6 bulan (1/2 tahun) sebelum kematianNya atau 6 bulan (1/2 tahun) setelah kematianNya akan menunjuk kepada hari / bulan kelahiran Mesias (atau yang lebih dikenal sebagai hari ulang tahun). Hal ini bertepatan dengan Hari Raya Pondok Daun / Feast of Tabernacle.
Tulisan ini, dibuat, untuk membuka sedikit wawasan tentang kebenaran firman TUHAN.
Semua ini ada dalam kitab suci dan memang tertulis demikian (bagi yang percaya).
2 Tim 3:16 (ILT) Semua kitab diilhami Elohim dan bermanfaat untuk pengajaran, untuk teguran, untuk perbaikan, untuk pendidikan dalam kebenaran,
Adalah penting bagi kita, untuk merenungkan Torat TUHAN siang dan malam, supaya kita tidak binasa, seperti dalam ayat berikut ini:
Umat-Ku dibinasakan karena kurang pengetahuan. Oleh karena kamu menolak pengetahuan itu, Aku pun menolak kamu menjadi imam bagi-Ku. Oleh karena kamu melupakan torat Elohimmu, Aku pun akan melupakan anak-anakmu. Hos 4:6 (ILT)
Hal yang perlu kita lakukan adalah memberikan diri, untuk dipimpin melalui kebenaran firman TUHAN, bukan melakukan kehendak kita sendiri, dengan dalih “TUHAN melihat hati”. TUHAN memang melihat hati, tetapi hati yang “benar”, hati yang “takut akan TUHAN”, bukan perawakan, atau penampilan lahiriah saja.
Sebab manusia memandang penampilan lahiriah, tetapi YHWH memandang hati.
(1 Sam 16:7 – ILT)
Jika kita tidak menguji melalui firman TUHAN, itu menandakan bahwa kita tidak percaya bahwa firman itu benar.
Sudahkah kita menguji segala sesuatunya dengan kebenaran firman TUHAN?
2Th 2:11-12 (ILT) Dan karena itulah Elohim akan mengirimkan daya kerja kesesatan kepada mereka supaya mereka percaya pada kepalsuan, sehingga mereka dapat dihakimi, yaitu semua orang yang tidak percaya kepada kebenaran, tetapi yang senang berada dalam ketidakbenaran.
YHWH Shalom,
-Rob
Filed under: About Faith | Tags: adat, bait, grace, iblis, kasih karunia, rumah doa, satan, setan, tradisi, Tuhan
“jadilah kehendakMu ya Tuhan, atas kami”
“bentuklah aku seperti yang Kau ingini”
“ku mau sepertiMu, disempurnakan selalu”
“jadikan aku.. rumah doaMu”
dan masih banyak lagi yang lain..
Melihat / membaca kalimat-kalimat tersebut diatas, timbul pertanyaan;
apakah diucapkan hanya pada saat ibadah saja?
ataukah dalam kehidupan sehari-hari?
apakah benar-benar tulus diucapkan? atau hanya sekedar lips service?
Hanya Tuhan yang tahu.
Mat 5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
Tuhan tidak menginginkan diriNya disanjung-sanjung untuk sesuatu yang bersifat bualan. Tuhan tidak menginginkan manusia melakukan lebih dari yang diperintahkan. Tuhan hanya mau kita taat melakukan sesuai firmanNya. Tidak lebih.
Untuk dapat benar-benar melakukan semua yang Tuhan berikan, itu dibutuhkan usaha yang keras. Dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, pengetahuan dan akal budi, sebagai bukti mengasihi Dia. Dan untuk memenuhi semua itu bukanlah hal yang mudah. Jika demikian bagaimana mungkin kita melebih-lebihkan, kecuali dengan kepalsuan.
.. jadilah kudus, sebab Aku ini kudus. Imamat 11:45
..Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. 1 Pet 1:16
Untuk menjadi kudus, dibutuhkan kemauan dan usaha, bukan berharap pada “grace alone” dan tidak melakukan apa-apa.
Karunia/”grace” adalah pemberian dari Bapa semata, tapi kita juga harus “menyambut” pemberianNya.
Jika kita melakukan hal yang lain / berbeda, apakah disebut taat / menguduskan atau kita sedang menyelewengkan perintah Tuhan?
Tuhan memerintahkan untuk “melakukan Sabat”, tetapi manusia menginginkan hari lain;
Tuhan memerintahkan untuk merayakan 7 hari raya yang ditetapkan, tetapi manusia menginginkan hari raya yang diadopsi dari budaya pagan;
Tuhan memerintahkan untuk tidak makan makanan haram, tetapi manusia menginginkan sesuatu yang najis.
dan masih banyak lagi yang tidak tertulis dalam Firman Tuhan, yang masih manusia lakukan seolah taat kepadaNya.
Jadi, jika demikian, sebenarnya kehendak siapa yang kita lakukan?
Mari kita tilik ayat berikut yang ditulis dalam Dan 7:25
Ia akan mengucapkan perkataan yang menentang Yang Mahatinggi, dan akan menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi; ia berusaha untuk mengubah waktu dan hukum, (and it intends to change appointed times and law)….
** appointed times ini berbicara tentang hari-hari raya dan
** law, berbicara mengenai hukum atau yang lebih dikenal dengan Torah
Kita tahu, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “Ia”; tidak lain adalah Satan.
Satan berusaha merubah waktu-waktu yang ditetapkan oleh Bapa.
Satan melakukan itu semua, supaya manusia tidak taat oleh perintah Bapa
karena dia sedang menentang Yang Mahatinggi. Sehingga manusia semakin berdosa, manusia semakin jauh dari Tuhan.
Satan melakukan penyelewengan-penyelewengan sama seperti kejadian di taman Eden, dengan dalih.. “Sekali-kali kamu tidak akan mati,..” Kej 3:4
Dan dalam Yoh 8:44 dikatakan bahwa Satan adalah bapa segala dusta (Yoh 8:44)
Semakin jelas, kumau seperti “siapa” sekarang?
atau mungkin… rumah doa “siapa”?
Apakah menuruti firman Tuhan atau menuruti penyelewengan-penyelewengan?
Mat 7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Mat 7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (you who work lawlessness!’ / anti-Torah)
**lawlessness / anti Torah, hal-hal yang bertentangan dengan Torah, seperti yang Satan inginkan.
Mungkin pernyataan-pernyataan ini terkesan berulang-ulang, tapi harus dicermati, jika segala sesuatu yang berhubungan dengan keselamatan, pasti akan diperingatkan berulang-ulang. Lain halnya jika mengindahkan keselamatan / tidak peduli pada keselamatan (who cares…)
Dalam Mat 15:8-9 tertulis
Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”
Jika kita mau menjadi seperti yang diinginkanNya, jadikan YHWH Elohim sebagai sandaran hidup kita, dan lakukan apa yang diperintahkanNya. Amein.
YHWH Shalom
-Rob
“jadilah kehendakMu ya Tuhan, atas kami”
“bentuklah aku seperti yang Kau ingini”
“ku mau sepertiMu, disempurnakan selalu”
“jadikan aku.. rumah doaMu”
dan masih banyak lagi yang lain..
Melihat / membaca kalimat-kalimat tersebut diatas, timbul pertanyaan;
apakah diucapkan hanya pada saat ibadah saja?
ataukah dalam kehidupan sehari-hari?
apakah benar-benar tulus diucapkan? atau hanya sekedar lips service?
Hanya Tuhan yang tahu.
Mat 5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
Tuhan tidak menginginkan diriNya disanjung-sanjung untuk sesuatu yang bersifat bualan. Tuhan tidak menginginkan manusia melakukan lebih dari yang diperintahkan. Tuhan hanya mau kita taat melakukan sesuai firmanNya. Tidak lebih.
Untuk dapat benar-benar melakukan semua yang Tuhan berikan, itu dibutuhkan usaha yang keras. Dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, pengetahuan dan akal budi, sebagai bukti mengasihi Dia. Dan untuk memenuhi semua itu bukanlah hal yang mudah. Jika demikian bagaimana mungkin kita melebih-lebihkan, kecuali dengan kepalsuan.
.. jadilah kudus, sebab Aku ini kudus. Imamat 11:45
..Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. 1 Pet 1:16
Untuk menjadi kudus, dibutuhkan kemauan dan usaha, bukan berharap pada “grace alone” dan tidak melakukan apa-apa.
Karunia/”grace” adalah pemberian dari Bapa semata, tapi kita juga harus “menyambut” pemberianNya.
Jika kita melakukan hal yang lain / berbeda, apakah disebut taat / menguduskan atau kita sedang menyelewengkan perintah Tuhan?
Tuhan memerintahkan untuk “melakukan Sabat”, tetapi manusia menginginkan hari lain;
Tuhan memerintahkan untuk merayakan 7 hari raya yang ditetapkan, tetapi manusia menginginkan hari raya yang diadopsi dari budaya pagan;
Tuhan memerintahkan untuk tidak makan makanan haram, tetapi manusia menginginkan sesuatu yang najis.
dan masih banyak lagi yang tidak tertulis dalam Firman Tuhan, yang masih manusia lakukan seolah taat kepadaNya.
Jadi, jika demikian, sebenarnya kehendak siapa yang kita lakukan?
Mari kita tilik ayat berikut yang ditulis dalam Dan 7:25
Ia akan mengucapkan perkataan yang menentang Yang Mahatinggi, dan akan menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi; ia berusaha untuk mengubah waktu dan hukum, (and it intends to change appointed times and law)….
** appointed times ini berbicara tentang hari-hari raya dan
** law, berbicara mengenai hukum atau yang lebih dikenal dengan Torah
Kita tahu, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “Ia”; tidak lain adalah Satan.
Satan berusaha merubah waktu-waktu yang ditetapkan oleh Bapa.
Satan melakukan itu semua, supaya manusia tidak taat oleh perintah Bapa
karena dia sedang menentang Yang Mahatinggi. Sehingga manusia semakin berdosa, manusia semakin jauh dari Tuhan.
Satan melakukan penyelewengan-penyelewengan sama seperti kejadian di taman Eden, dengan dalih.. “Sekali-kali kamu tidak akan mati,..” Kej 3:4
Dan dalam Yoh 8:44 dikatakan bahwa Satan adalah bapa segala dusta (Yoh 8:44)
Semakin jelas, kumau seperti “siapa” sekarang?
atau mungkin… rumah doa “siapa”?
Apakah menuruti firman Tuhan atau menuruti penyelewengan-penyelewengan?
Mat 7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Mat 7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (you who work lawlessness!’ / anti-Torah)
**lawlessness / anti Torah, hal-hal yang bertentangan dengan Torah, seperti yang Satan inginkan.
Mungkin pernyataan-pernyataan ini terkesan berulang-ulang, tapi harus dicermati, jika segala sesuatu yang berhubungan dengan keselamatan, pasti akan diperingatkan berulang-ulang. Lain halnya jika mengindahkan keselamatan / tidak peduli pada keselamatan (who cares…)
Dalam Mat 15:8-9 tertulis
Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”
Jika kita mau menjadi seperti yang diinginkanNya, jadikan YHWH Elohim sebagai sandaran hidup kita, dan lakukan apa yang diperintahkanNya. Amein.
YHWH Shalom
-Rob
Filed under: About Faith | Tags: babi, cumi, halal, haram, imamat, mesias, udang
… “Apa yang dinyatakan halal oleh Tuhan, tidak boleh engkau nyatakan haram.” Kis 10:15 (TB)
Banyak orang (terutama umat kristen) menyangka, bahwa ayat tersebut diatas berbicara mengenai makanan.
Tapi apakah benar demikian?
Apakah TUHAN (YHWH) menyatakan bahwa makanan-makanan yang najis (unclean) seperti dalam Imamat 11; telah diubah menjadi “halal” / dinyatakan “clean”?
Apakah TUHAN membatalkan FirmanNya sendiri?
Jika kita membaca Kisah Para Rasul Pasal 10 dan dilanjutkan dengan Pasal 11, maka kita akan mengerti apa yang maksud oleh TUHAN (YHWH) sebagai sesuatu yang haram yang diperbolehkan atau dinyatakan halal.
Mari kita lihat ayat berikut:
Ia berkata kepada mereka: “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Tuhan telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir. Kis 10:28 (TB)
Dalam ayat tersebut diatas jelas, bahwa orang yang bukan Yahudi, tetap harus diterima, masuk kedalam rumah. Itu bukan sesuatu yang najis a.k.a “haram”. Dan jika kita membaca, ayat-ayat dalam Pasal 10 dan 11, sama sekali tidak berbicara mengenai makanan.
Ada ayat lain yang sering digunakan sebagai “legalitas” untuk memakan makanan yang dinyatakan najis / unclean menurut Firman TUHAN seperti ayat berikut ini:
“Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Mat 15:11 (TB)
Jika kita membaca perikop Mat 15 secara keseluruhan, maka dapat diketahui pula bahwa perikop tersebut berbicara mengenai kebiasaan atau tradisi nenek moyang seperti dijelaskan pada ayat dibawah ini:
“Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.” Mat 15:2 (TB)
…Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.” Mat 15:20 (TB)
Jadi, untuk kedua kalinya, ayat-ayat tersebut tidak berbicara mengenai makanan najis yang kemudian dihalalkan. Melainkan tidak membasuh tangan sebelum makan, tidak akan menajiskan makanan yang masuk. Makanan disini sudah dapat dipastikan “clean”; dalam arti semua makanan “clean” yang masuk ke dalam tubuh, tidak akan menjadi najis, hanya karena tidak mencuci tangan.
Dari ayat diatas, justru semakin jelas, bahwa TUHAN, membedakan makanan yang najis /”unclean” /haram dengan makanan yang kudus / “clean”.
(uppss..;“Sorry to say” buat para penggemar babi, udang, cumi dan sejenisnya karena ternyata semua itu bertentangan dengan apa yang TUHAN nyatakan dalam Imamat 11)
TUHAN memberikan FirmanNya, supaya kita, sebagai umatNya, dapat hidup kudus seperti yang Bapa inginkan. Jika kita tidak percaya akan hal-hal ini, berarti kita sedang berada diluar lingkup rencana Bapa.
Mengapa demikian?
Karena Bapa memisahkan umatNya dengan umat-umat yang lain. Bapa membuat perbedaan. Bapa memisahkan “kambing” dan “domba” sekalipun keduanya hidup “bersama-sama”, bahkan dalam satu “kandang”.
Ada baiknya kita tilik ayat-ayat berikut:
Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Tuhan, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 1 Kor 6:19 (TB)
Sebab Akulah TUHAN (YHWH) yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Tuhan-mu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus. Imamat 11:45 (TB)
tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. 1 Pet 1:15-16 (TB)
Banyak hal-hal yang Bapa bukakan di masa-masa akhir ini, yang mengejutkan, karena ternyata berbeda dengan apa yang selama ini kita percayai.
YHWH Shalom
-Rob
Wahyu 13:16-17 Dan dia membuat semua orang, kecil dan besar, juga kaya dan miskin, bahkan merdeka dan hamba, supaya dia memberikan kepada mereka sebuah tanda pada tangan kanan mereka atau pada dahi mereka. Dan supaya setiap orang tidak dapat membeli atau menjual, kecuali dia yang mempunyai tanda atau nama binatang itu atau bilangan namanya.
Ayat diatas berbicara tentang keadaan, dimana tiap-tiap orang tidak dapat melakukan transaksi / jual-beli, jika tidak menerima tanda atau bilangan “binatang” pada tangan atau dahi mereka.
Seringkali kita mendengar bahwa tanda tersebut dapat berupa microchip unik yang akan diletakkan / ditanamkan dibawah kulit sebagai identitas pribadi untuk dapat melakukan transaksi.
Apakah benar demikian ?
Bisa saja benar, namun ada baiknya kita melihat ayat-ayat berikut ini:
Ul 6:2 supaya seumur hidupmu, engkau takut akan YAHWEH, Elohimmu, dan memelihara segala ketetapan dan perintah-Nya yang aku perintahkan kepadamu dan anakmu dan cucumu, dan supaya lanjut umurmu. Ul 6:8 Dan haruslah engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu.
Kitab Ulangan juga berbicara mengenai tanda pada tangan dan dahi. Dan jelas bahwa tanda tersebut adalah segala sesuatu yang sudah diperintahkan Bapa untuk dipelihara dan dilaksanakan seperti pada Ul 6:2 diatas.
Perintah-perintah yang adalah Torah, merupakan perjanjian kekal antara Bapa dan umatNya (Israel dan bangsa lain – lihat Yoh. 10:16) Tangan mewakili perbuatan-perbuatan, sedangkan dahi mewakili pemikiran atau apa yang ada dalam pikir kita.
Apakah perbuatan dan pikiran kita tertuju pada kehendak Bapa atau tidak?
Dalam kitab Wahyu yang disebutkan diawal tulisan, mengacu pada sesuatu yang bukan berasal dari Bapa YHWH. Jika demikian, hal-hal tersebut pasti bertentangan dengan perintah-perintah yang telah Bapa berikan untuk dilaksanakan.
Untuk dapat “transaksi” (bertahan hidup), orang-orang akan melakukan hal-hal demikian..
Mari kita lihat hal-hal yang bertentangan dengan 10 perintah TUHAN:
- Memiliki ilah-ilah (idol / sesembahan) lain
- Membuat patung dan menyembahnya
- Menyebut nama TUHAN dengan “sembarangan”
- Tidak menguduskan hari Sabat
- Tidak menghormati orang tua
- Membunuh
- Berzinah
- Mencuri
- Bersaksi dusta terhadap sesama
- Mengingini milik sesama
Jadi, jika kita tidak melakukan perintah-perintah yang TUHAN berikan, bukankah kita sedang menerima “tanda binatang” itu? Apakah kita melakukan hal-hal diatas untuk tetap bertahan hidup?
Ul 10:12-13 Dan sekarang, hai Israel, apakah YAHWEH, Elohimmu, telah meminta sesuatu darimu selain takut akan YAHWEH, Elohimmu, dengan hidup menurut segala jalan-Nya, dan dengan mengasihi Dia, dan dengan melayani kepada YAHWEH, Elohimmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dengan memelihara perintah-perintah YAHWEH dan ketetapan-ketetapan-Nya, yang aku perintahkan kepadamu pada hari ini agar baik bagimu.
YHWH memberkatimu..
Filed under: About Faith | Tags: lama, mesias, messiah, torah, torat, usang, yahshua, yahushua, Yeshua, YHWH
Mari kita baca ayat berikut:
Ibr 8:13 Dengan mengatakan, “Baru,” Dia telah membuat yang pertama menjadi usang. Dan apa yang menjadi usang dan menjadi tua, sudah dekat pada kemusnahannya.
Apakah ayat tersebut diatas menjelaskan adanya penggantian yang “Lama” dengan yang “Baru”?
Ada baiknya kita sama-sama menilik juga ayat berikut ini:
Ibr 10:16 “Inilah perjanjian yang akan Aku buat dengan mereka sesudah waktu itu,” YAHWEH berfirman, “Ketika memberikan torat-Ku pada hati mereka, Aku juga akan menuliskannya pada akal budi mereka; (Baca Yer 31:33-34)
Kita lihat disini bahwa sebenarnya, yang dimaksud “Lama” menjadi usang dan diambang kemusnahan adalah Torat yang tertulis diatas loh batu.
Mengapa demikian?
Karena Torat yang Bapa Yahweh berikan, bukan lagi tertulis diatas loh batu, melainkan dituliskan dalam hati umat percaya, bahkan lebih lagi, didalam akal budi mereka. Boleh dikatakan, torat itu sudah menjadi bagian dari “gaya hidup” umat percaya atau umat kristiani sebagaimana seharusnya.
Itu sebabnya, Yahushua sendiri berkata :
“Aku memberikan perintah yang baru kepada kamu, supaya kamu mengasihi seorang terhadap yang lain; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian juga kamu harus mengasihi seorang terhadap yang lain.” Yoh 13:34 (ILT)
“A renewed command I give to you, that you love one another, as I have loved you, that you also love one another. (The Scriptures 1998+)
Jadi perjanjian yang sebenarnya bukan “baru”; melainkan yang “diperbaharui” adalah saat Torat itu ada didalam hati bahkan didalam akal budi umat percaya.
Kita tidak bisa semena-mena menyatakan bahwa Torat tidak berlaku lagi, dan kita sekarang hidup dalam kasih anugerah Tuhan, sehingga mengesampingkan Perjanjian Lama dan hanya berpedoman pada Perjanjian Baru.
Jika kita melupakan apa yang ada dalam Torat, hal-hal seperti “jangan membuat & menyembah patung”, “hormatilah orang tuamu”, “jangan membunuh”. Apakah kita bebas membuat & menyembah patung, atau kita tidak lagi menghormati orang tua, atau bahkan bebas membunuh? Toh kita hidup di jaman anugerah, sekalipun itu semua dosa, kita hanya tinggal meminta ampun, beres?
Hal yang perlu diingat adalah bahwa kedatanganNya bukan untuk meniadakan Torat, melainkan untuk menggenapinya. (Mat 5:17)
Sebagai manusia, kita sadar, untuk menjadi sempurna merupakan hal yang mustahil. Padahal didalam Torat, jika kita gagal melakukan salah satu saja, maka itu akan melanggar Torat secara keseluruhan.
Tetapi Bapa Yahweh sungguh baik, sehingga melalui Mesias Yahushua yang adalah KasihNya, kita dapat dilayakkan dihadapan Bapa. Karena “pelanggaran dan kesalahan” kita yang ditanggung olehNya.
[4] Siapa yang mengatakan, “Aku telah mengenal Dia,” tetapi tidak memelihara perintah-perintah-Nya, dia adalah pendusta dan kebenaran tidak ada di dalam dirinya.
[5] Namun, siapa yang memelihara firman-Nya, sesungguhnya di dalam ia kasih Elohim telah disempurnakan. Dengan ini kita mengetahui bahwa kita ada di dalam Dia.
[6] Siapa yang mengatakan tinggal di dalam Dia, dia wajib berjalan sedemikian sebagaimana Dia sendiri juga telah berjalan.
[7] Saudara-saudara, aku tidak menuliskan kepadamu perintah yang baru, melainkan perintah lama yang dari semula terus kamu pegang. Perintah yang lama adalah firman yang telah kamu dengarkan dari semula.
(1 Yoh 2:4-7; ILT)
YHWH memberkati..
Filed under: About Faith | Tags: kasih, kedatangan, mesias, torah, torat, yahshua, yahushua, Yeshua
Kedatangan Mesias untuk sebagian orang merupakan hal yang dinanti-nantikan. Dimana Mesias Yahushua diibaratkan sebagai mempelai Pria yang akan menjemput mempelai Wanita (umat pilihanNya). Namun untuk sebagian lagi, kedatanganNya diibaratkan seperti pencuri. Kedatangan yang tiba-tiba dan tidak ada antisipasi yang dilakukan sebelumnya.
Kalau begitu, bagaimana supaya buat kita (umat percaya), kedatanganNya tidak seperti ”pencuri”?
Berdasarkan ayat diatas, ada hal-hal yang harus diperhatikan dan dilakukan, yaitu berjaga-jaga.
Secara umum, berjaga-jaga adalah suatu tindakan siap-siaga sehingga dapat mempersiapkan hal-hal yang mungkin terjadi.
Hal lain yang juga harus diperhatikan dan dilakukan adalah memelihara jubah.
Jubah atau pakaian berbicara mengenai perbuatan-perbuatan yang benar.
Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat ayat berikut:
”Sebab pesta perkawinan Anak Domba telah tiba, dan mempelai wanita-Nya (umat pilihan yang diperkenanNya) telah mempersiapkan dirinya (berjaga-jaga). Dan kepadanya dikaruniakan agar memakai kain linen yang halus, bersih dan bercahaya (jubah); karena kain linen yang halus adalah perbuatan-perbuatan benar dari orang-orang kudus” (Wahyu 19:7b-8;ILT; penekanan ditambahkan).
Seperti halnya menghadiri pesta perkawinan. Tidak semua orang diundang. Hanya orang-orang yang ”dekat”, ”dikenal” dan ”dikenan” saja. Dan para undangan tersebut, pasti mempersiapkan segala sesuatunya untuk dapat hadir dengan menggunakan pakaian atau gaun yang ”tidak memalukan” tentunya.
Lantas, apa yang dimaksud dengan ”dikaruniakan agar memakai kain linen”?
Karunia adalah sesuatu pemberian secara cuma-cuma, bukan atas dasar perbuatan atau ganjaran karena melakukan suatu hal yang baik. Tetapi untuk dapat melakukan perbuatan baik itu sebenarnya karena sudah diberi kasih karunia.
Banyak orang beranggapan Torah / Torat sudah tidak berlaku lagi dan sudah digantikan oleh ”hukum Kasih”. Dan saat ini umat percaya hidup didalamnya. Bahkan dengan alasan tersebut, umat percaya merasa bebas melakukan apa saja yang dikehendaki. Toh itu semua anugerah.
Ada baiknya kita sama-sama melihat ayat-ayat berikut yang merupakan ”hukum Kasih”yang ternyata sudah ada sejak jaman Musa.
Kasihilah YAHWEH, Elohimmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu! (Ul. 6:5;ILT)
Dan engkau harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri, Akulah YAHWEH. (Im. 19:18b;ILT)
(Baca: Yahshua & Taurat )
Dalam Perjanjian Baru, kedua ayat diatas dikenal sebagai ”hukum Kasih” dan merupakan ”rangkuman” dari hukum Torah.
Namun dapat diketahui bersama bahwa kedua ayat tadi sebenarnya sudah diberikan kepada umat pilihanNya, sejak keluar dari Mesir – dari tempat perbudakan. Dan pada saat itu bahkan sampai hari ini, tidak ada yang namanya pembatalan Torah, yang merupakan perintah langsung dari Bapa kita, YAHWEH Elohim, untuk dilakukan turun temurun.
Torah adalah ”tanda”, yang membedakan umat percaya / pilihanNya dengan orang lain. Dasar dari ”perbuatan baik / kain linen” yang memang kita diperintahkan untuk melakukannya.
Torah bukan merupakan hukum yang harus ditakuti, melainkan ”pengajaran” bagaimana seharusnya, umat percaya / pilihanNya, bertindak atau bertingkah laku.
Semua dapat dilakukan jika kita menerima karunia yang diberikan olehNya.
Karunia itu sudah diberikan, namun, apakah kita mau menerima atau tidak?
YHWH Shalom..
Rangkaian ayat-ayat berikut ini, memberikan gambaran yang jelas mengenai arti dari anugerah (grace) yang di canangkan oleh para pendeta dari aliran main-line yang mereka sendiri sudah dilatih untuk memegang teguh pendirian bahwa kita berada dibawah anugerah, dan bukan lagi terikat dibawah hukum.
Matius 22:1-2 Dan seraya melanjutkan, YESUS berkata lagi kepada mereka dalam perumpamaan, dengan mengatakan, “Kerajaan Surga diumpamakan dengan seseorang, seorang raja yang menyelenggarakan pesta pernikahan untuk putranya.
Jadi yang kita baca ini adalah sebuah kiasan, sebuah perumpamaan. Perumpamaan yang sangat jelas mengenai kasih anugerah Bapa YAHWEH.
Kita teruskan lagi:
Matius 22:3 Dan Dia menyuruh hamba-hambanya untuk memanggil mereka yang telah diundang ke pesta pernikahan itu, tetapi mereka itu tidak mau datang.
Katakanlah “surat” undangan tersebut, pada hakekatnya adalah apa yang kita kenal sebagai Hukum Elohim (alias Torat). Hamba-hamba-Nya yang pertama tidak lain daripada Musa dan penerusnya.
Mengapa saya katakan bahwa surat “undangan” itu adalah hukum torat? Karena yang terkandung di dalam torat adalah merupakan persyaratan untuk bisa datang keundangan pesta (mendekat kepada Bapa YAHWEH, Elohim Tsebaot). Dan bangsa yang mendapat panggilan ini, pada mulanya adalah hanya bangsa Yahudi saja! Tidak ada bangsa lain! Ini bukanlah disebabkan karena Bapa YAHWEH pilih kasih, tetapi maksud tujuan-Nya adalah, mempersiapkan satu bangsa dimana Putra-Nya, sang Penyelamat bagi seluruh umat manusia di seluruh dunia, akan di turunkan. Selain dari bangsa Yahudi, rasul Paulus menerangkan keadaan bangsa-bangsa lain (kafir atau bangsanya kita-kita ini) sebagai berikut:
Efesus 2:11-12 Oleh karena itu, ingatlah, bahwa secara lahiriah kamu dahulu adalah bangsa-bangsa yang disebut tidak bersunat oleh orang yang menyebut diri bersunat, yang dibuat oleh tangan oleh tangan manusia secara lahiriah; bahwa kamu adalah tanpa Kristus pada saat itu, yang terasing dari kewargaan Israel dan asing terhadap perjanjian ikrar, yang tidak memiliki pengharapan dan tanpa Elohim di dalam dunia.
Perjanjian ikrar adalah hukum torat dan segala janji-janji. Hanya bangsa Yahudi saja yang mendapat hak istimewa untuk dapat berjalan bersama Elohim yang perkasa, kalau mereka mau hidup dan berjalan di dalam hukum yang mereka terima (baca Ulangan 8:1).
Matius 22:4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.
Hamba-hambanya, seperti yang saya sudah katakan, adalah para nabi yang di utus-Nya, mulai dari Musa sampai kepada Maleakhi.
Matius 22:5-7 Namun dengan mengabaikannya, mereka pergi, yang seorang ke ladangnya, dan yang lain ke usahanya, dan yang selebihnya, sambil menangkapi para hambanya, mereka menyiksa dan membunuhnya. Dan ketika mendengarnya, raja itu dibuat marah, dan dengan mengirimkan tentaranya, dia membinasakan para pembunuh itu dan membakar kota mereka.
Kalau kita membaca sejarah Israel, kita dapati bagaimana mereka telah berulang kali diserang oleh musuh-musuh mereka, antaranya adalah raja Nebukadnezar yang menjajah dan memusnahkan kota-kota Israel serta memboyong umat Israel ke Babel sebagai orang-orang buangan selama 70 tahun (baca Kitab Daniel).
Lalu di ayat-ayat yang berikut ini kita dapatkan apa yang namanya “anugerah” (grace) yang menjadi Kabar Baik bagi bangsa-bangsa lain (kafir).
Matius 22:8-9 Kemudian dia berkata kepada hamba-hambanya: Sesungguhnya pesta pernikahan telah siap, tetapi mereka yang telah diundang tidaklah layak. Oleh karena itu, pergilah ke lorong-lorong jalan, dan undanglah ke pesta pernikahan itu sebanyak yang kamu jumpai.
Ini adalah sebuah ilustrasi rohaniah mengenai “anugerah” yang di ulurkan kepada orang-orang yang tidak memiliki surat undangan! Kita telah disuluhi akan arti kata “surat undangan” tersebut; hukum torat yang memungkinkan para undangan untuk dapat masuk keruangan pesta dan berada bersama-sama sang raja! Nah, inilah yang merupakan anugerah atau “grace” yang terkenal. Kita mendapat hak untuk masuk keruangan pesta tanpa membawa surat undangan, atau menjalankan torat terlebih dahulu. Dan dalam ayat ini; … “undanglah ke pesta pernikahan itu sebanyak yang kamu jumpai” kita dapati juga satu pengertian yang lain lagi; yang meniadakan pengertian kaum Calvinist yang mengatakan bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang sudah ditetapkan dalam pilihan untuk diselamatkan! Memang ayat-ayat ini adalah kiasan, tetapi kiasan Elohim selalu menunjukkan maksud yang benar; tidak ada dusta dan kata-kata yang sia-sia dalm firman Elohim.
Tetapi pesta tersebut masih dalam perencanaan, masih ada hari pelaksanaannya – masih ditunggu tanggal mainnya. Jadi, sang raja memberikan kesempatan yang cukup panjang agar para hadirin mempersiapkan atau membersihkan diri (wujudnya adalah bertobat) dan memakai busana pesta (berjalan dalam kekudusan) dll., mungkin juga ada yang mencari hadiah yang akan diserahkan (pelayanan demi kerajaan).
Matius 22:10 Dan hamba-hamba itu seraya keluar kejalan-jalan, mereka mengumpulkan semua orang, sebanyak yang mereka jumpai, yang jahat maupun yang baik; dan pesta pernikahan itu dipenuhi mereka yang duduk makan.
Sekali lagi, inilah sebuah ilustrasi dari kata “anugerah” yang kita dapati; kita yang jahat dan yang baik tanpa terkecuali telah di undang ke pesta dan menjadi tamu kehormatan dari raja, walaupun tadinya kita-kita ini tidak termasuk golongan atau tingkat masyarakat yang layak menerima undangan atau menjalankan torat!
Matius 22:11-12 Dan raja itu, ketika datang menyaksikan mereka yang duduk makan, disitu ia melihat seorang yang tidak mengenakan busana pesta pernikahan. Dan dia berkata kepadanya: Hai teman, bagaimana engkau masuk ke sini tanpa mengenakan pakaian pesta pernikahan? Namun dia terdiam.
Apakah artinya ini? Orang ini telah dipanggil yaitu mendapat kemurahan dan anugerah untuk menghadiri pesta raja. Kalau yang lain-lain telah mempersiapkan diri dengan membersihkan diri (bertobat) dan menyiapkan pakaian pesta (mempelajari syarat-syarat untuk menghadiri dan menghadap raja yang kudus, katakanlah yang menjadi tuntutan dari hukum torat), orang ini telah berani datang dengan pakaian kumuh (tanpa mengenal torat apalagi berusaha menjalankannya), badan masih bau dan kotor (belum bertobat dari dosa, karena merasa tidak perlu, karena sudah diundang, jadi sekali terhitung/diundang – sekali selamat, tetap selamat) dan mengira mengambil keteledoran diri sebagai hak yang mutlak, karena telah di cekoki dengan injil kabar baik tanpa syarat.
Disinilah bahayanya yang sedang dihadapi oleh orang-orang yang merasa menjadi orang-orang kristen yang bebas, merdeka, menurut ajaran dari pada pendeta tipe Joel Ostein dan … (isi sendiri).
Mengapa saya sangat terbeban dengan hal ini? Karena, anggota keluarga saya (dan beberapa anak didik) sendiri masih mengunjungi gereja-gereja yang mencanangkan hal ini. Mereka pikir, kalau yang menjadi gembala sidang itu berpredikat PhD’Th. dsb., mereka pastilah telah terdidik tinggi sehingga apa yang disuguhkannya itu adalah merupakan kebenaran kitab injil yang sesungguhnya.
Maka terpikirlah saya kalau seandainya kita ini hidup dalam masa para rasul, apakah kita akan mengikuti ajaran dari “orang-orang biasa yang tak terpelajar” seperti para nelayan (Petrus, Yohanes dll.) dan sampai kepada Matius, si pemungut cukai. Mereka tidak mempunyai predikat apa-apa!
Adapun doktrin gereja-gereja “mainline” ini harus ditelusuri melalui yang namanya bapa-bapa gereja dini; kita harus mengetahui latar belakang mereka! Karena bapa-bapa gereja dini inilah, yang melandasi gereja-gereja mainline dewasa ini.
Mereka terkenal sebagai pembenci dan memusuhi bangsa Yahudi – Martin Luther sendiri sangat membenci dan mengeluarkan rumusan untuk melenyapkan bangsa Yahudi yang di turuti oleh Hitler yang merasa bahwa dengan membasmi orang-orang Yahudi, dia telah menjalankan kehendak Elohim Tsebaot.
(Baca ulasan saya di: http://lsguan.multiply.com/journal/item/158/BERTANYALAH_TENTANG_JALAN-JALAN_YANG_LAMA)
Saya kutib pengakuan Hitler sebagai berikut ini:
Pada pertemuan orang-orang Kristen di Berlin pada tahun 1924, Adolf Hitler, yang mengaku adalah seorang Kristen, berdiri dihadapan beribu-ribu umat Kristen, yang disambut dengan sorak sorai berdiri, telah berkata:
“Saya percaya bahwa hari ini saya bertindak sesuai dengan kehendak Elohim yang mahakuasa.
Selagi saya mengumumkan tugas yang terpenting yang umat Kristen dapat lakukan dan hal itu adalah untuk melawan orang-orang Yahudi dan memusnah-habiskan mereka sekali dan untuk selama-lamanya. Kita menunaikan tugas Adonai dan marilah kita mulai.”
Hitler telah menyatakan, “Martin Luther telah menjadi pendorong semangat di dalam kehidupan saya. Luther adalah seorang besar. Dia adalah seorang raksasa. Dengan satu pukulan, dia sudah memberitakan kedatangan fajar dan masa yang baru.
Dia telah melihat dengan jelas bahwa orang-orang Yahudi itu perlu di musnahkan dan kita baru saja mulai melihat bahwa kita perlu untuk melaksanakan tugas ini.”
Hitler telah mengikuti, kata demi kata, risalat Luther mengenai cara untuk memusnahkan orang-orang Yahudi. Martin Luther menyampaikan khotbahnya yang terakhir tentang kegemarannya untuk melawan orang-orang Yahudi dan meninggal dunia empat hari kemudian. Sesungguhnya, pemimpin Nazi, Striker, pada waktu di sidangkan di Nuremberg menyatakan, “Saya tidak mengatakan apa-apa yang Martin Luther tidak ucapkan”.
Inilah isi dan akibat dari ajaran bapa gereja protestan yang di ikuti oleh doktrin-doktrin gereja dewasa ini!
Kembali kepada perumpamaan YAHSHUA:
Nah, kalau kita tidak mengindahkan anugerah yang sudah diberikan dengan jalan mempersiapkan diri untuk berada bersama-sama dengan Raja di atas segala raja yang kudus, dan mempelajari dan berusaha untuk menaatinya, inilah yang akan terjadi kepada kita:
Matius 22:13-14 Kemudian raja itu berkata kepada para pelayannya: Setelah mengikat kaki dan tangannya angkat dan campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang diluar, di sana akan ada tangis dan kertak gigi. Sebab, banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”
Kalau kita menilik hari-hari raya YAHWEH yang tertulis di kitab Imamat 23, yang telah di abaikan oleh gereja-gereja mainline dewasa ini, kita akan dapati bahwa dari ketujuh hari-hari raya yang sudah diundang-undangkan, yang senantiasa kita langgar selama ini, empat dari perayaan-perayaan tersebut telah di genapi dalam kedatangan YAHSHUA untuk kali pertamanya.
Disana kita telah ditunjukkan perayaan Pesakh (Paskah-pengorbanan YAHSHUA), Roti tak Beragi (Tubuh dikubur namun tak membusuk), Buah Bungaran (Kebangkitan dari kematian yang pertama), dan Pesta Pekan-pekan (Shavout-Turunnya Roh Kudus) yang telah digenapi.
Jadi masih terdapat tiga perayaan lagi yang belum digenapi: Hari Raya Peniupan Serunai (Roshashana – Kedatangan yang kedua kalinya), Hari Raya Penebusan (Yom Kippur – nah disinilah akan terlihat siapa yang boleh tinggal di pesta karena berpakaian pesta dan yang masih kumuh, katakanlah penetapan dari panggilan yang kita baca di atas ini), dan terakhir, Pondok Daun (Sukkot – EmanuEl, Elohim tinggal bersama-sama kita).
Maukah kita menjadi layak untuk masuk kepesta pernikahan Anak Domba?
Mulailah mempelajari iman kristiani yang di ajarkan oleh YAHSHUA dan para rasul. Mereka semua menaati torat dan berusaha hidup di dalam kekudusan. Tinggalkanlah para pendeta yang menghibur-hibur saja, karena keselamatan kita tidak terletak dalam hiburan saja melainkan melakukan kehendak Bapa yang disurga (Matius 7:21). Para pendeta yang hanya menghibur saja itu besar kemungkinan akan menghadapi ayat-ayat Matius 7:22-23.
Semoga kalian mendapat penyuluhan yang menemplak, bukan yang menyinggung!
Aaron Halim,
Toronto, April 19, 2009
Taken from here
Filed under: About Faith | Tags: Abraham, Easter, Paskah, Passover, Pesach, Pesakh, Telur paskah, yahshua, YHWH
Diusianya yang senja, Abram dan Sarai menerima janji Tuhan YHWH, bahwa mereka akan memperoleh keturunan. Sebagai manusia, terutama yang sudah tua, pasti merasa kalau memiliki keturunan di usia seperti ini adalah hal yang mustahil.
Dan dengan menggunakan “pemikiran manusia”, Sarai berkata kepada Abram untuk “menghampiri” Hagar (hambanya / budaknya) dengan harapan supaya mendapat keturunan.
Abram dan Sarai merasa bahwa apa yang mereka lakukan “sudah benar” dan kini mereka memiliki keturunan sehingga berhak atas janji Tuhan YHWH.
13 tahun kemudian Tuhan YHWH menampakkan diri kepada Abram (yang kemudian disebut Abraham). Abraham berharap bahwa Ismael (keturunan dari Hagar) dapat diperkenan oleh Tuhan YHWH. Tetapi sekali lagi, Tuhan YHWH menegaskan bahwa Sarai (yang kemudian disebut Sara) akan melahirkan anak laki-laki bagi Abraham.
Dan seperti yang dijanjikanNya, Tuhan YHWH menggenapi dengan lahirnya Ishak (anak perjanjian) dari istri Abraham yang sah yaitu Sara.
Dari cerita Abraham ini, dapat dipetik pelajaran bahwa firman Tuhan YHWH mengandung janji. Yang sekalipun mustahil bagi manusia, tapi tidak bagi Tuhan YHWH. Dan Tuhan YHWH tidak akan pernah lupa untuk menepatinya.
Sekalipun Abraham sudah “berpikir dan melakukan dengan caranya sendiri” untuk mendapatkan keturunan (untuk menelaah firman Tuhan YHWH). Tetapi ternyata bukan seperti yang Tuhan YHWH maksud dan tidak sesuai dengan waktuNya.
Tuhan YHWH mempunyai waktuNya sendiri dan caraNya sendiri.
Tidak seperti yang manusia pikirkan.
Apakah Ismael diberkati Tuhan YHWH?
Tentu saja, Tuhan YHWH memberkati Ismael, namun ternyata bukan dia yang dimaksud sejak semula.
Jadi jangan jadikan “berkat” sebagai suatu “tolok ukur” bahwa kita melakukan sesuatu yang benar.
Menjelang Paskah / Pesakh, beberapa waktu lagi, kita umat yang katanya percaya kepada TUHAN, diperhadapkan dengan beberapa kebiasaan.
Menurut pemikiran dan kebiasaan manusia, Paskah biasa dirayakan dengan atribut telur yang katanya identik dengan kelahiran baru, padahal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan firman Tuhan YHWH. (Tentang Easter)
Jika kita meneliti sejarah Paskah / Pesakh / Passover, dimulai pada saat bangsa Israel yang dipimpin oleh Musa keluar dari tanah Mesir. Yaitu bangsa Israel, diluputkan dari kematian anak sulung, jika dan hanya jika, ditemukan darah domba Paskah pada ambang pintu dan tiang rumah. Dan ini adalah perayaan yang ditetapkan untuk selama-lamanya.
Sekali lagi, Tuhan YHWH, menggenapi rencanaNya, melalui kematian Yahshua (yang dunia kenal dengan nama Y-sus) dengan menjadi korban Domba Paskah. Supaya setiap orang yang percaya dan menerimaNya, oleh DarahNya akan diselamatkan dari kematian.
Penggenapan Tanda Yunus.
Beberapa dari kita yang membaca firman Tuhan, pasti bertanya-tanya. Darimana bisa mendapatkan 3 hari 3 malam, sebagai tanda bahwa Yahshua menggenapi tanda Yunus.
(39)Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. (40) Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. (Mat. 12)
Apakah mungkin kematian hari Jumat akan menghasilkan 3 hari 3 malam pada kebangkitan hari Minggu? (good question…)
Menurut penanggalan Hebrew, 14 Nisan 3790, atau Pesakh pada tahun tersebut adalah hari Rabu, dimana Yahshua menjadi Korban Domba Paskah dan menggenapi firman Tuhan YHWH dalam kitab Keluaran;
(6) Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja (7) Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya. (Kel.12)
Yahshua mati pada jam 3 petang (senja) hari Rabu dan bangkit jam 3 petang hari Sabtu (Sabbath), karena Dia adalah Tuhan atas hari Sabbath
Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. (Mat 12:8)
(Next question..) Bagaimana dengan ayat berikut?
tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. (Luk 24:1)
Perhitungan hari menurut Hebrew, dimulai saat sundown /sunset (terbenamnya matahari).
Jadi pada saat matahari sudah terbenam, itu sudah menjadi hari yang baru / hari berikut.
Jika dikatakan “pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu (Minggu)”, sudah pasti Yahshua tidak berada dikubur yang dimaksud. Bahkan sebenarnya pada saat malampun sudah tidak berada dikubur, karena Yahshua sudah bangkit, hari Sabbath senja.
HaleluYAH…
Jadi setelah kita menerima Dia sebagai korban penebusan atas dosa-dosa kita,
- Apakah kita tetap berlaku tidak benar kepada A*lah YHWH, Bapa kita?
- Apakah yang kita lakukan berkenan atau bahkan bisa sempurna menurut pandangan Bapa?
- Apakah hanya sekedar “baik”?
Happy Easter Pesach everyone..
YHWH bless and keep you..